Photobucket
Tampilkan postingan dengan label seputarasuransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seputarasuransi. Tampilkan semua postingan

18 Mei, 2009

Takaful Indonesia Gandeng Pos Indonesia dan Artajasa

Peserta asuransi Takaful Indonesia kini resmi dapat dilayani di seluruh kantor Pos Indonesia, sejak diluncurkannya program Takaful Online Payment System pada Rabu, 18 April 2007 langsung oleh Direktur Utama PT Syarikat Takaful Indonesia (STI), Wan Zamri Wan Ismail, Direktur Utama PT Pos Indonesia, Hana Suryana dan Direktur Utama PT Artajasa Pembayaran Elektronis, Arya Damar.
Acara peluncuran yang diselenggarakan di Lapangan Golf Club Bogor Raya ini dihadiri oleh Direksi Takaful Grup dan Direksi PT Pos Indonesia. Kerjasama ini merupakan implementasi dari Nota Kerjasama (MOU) yang telah ditandatangani sebelumnya.
Direktur Utama PT STI, Wan Zamri Wan Ismail mengatakan, dengan kerjasama ini, Kantor Pos Indonesia kini bisa menjadi pusat layanan asuransi Takaful, dimana nasabah dapat membayar premi di loket-loket kantor Pos bertanda khusus SOPP (System Online Payment Point). Ditambahkan Wan Zamri, Takaful Online Payment System ini diluncurkan sebagai alternatif pilihan bagi nasabah perorangan dalam hal pembayaran premi. Sistem ini juga ditujukan untuk memberikan kemudahan akses dan kenyamanan bagi nasabah dalam berinteraksi dengan Perusahaan. “Bahkan saat ini kita lagi membahas bersama Pos tentang kemungkinan nasabah dapat belanja asuransi melalui kantor pos,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Hana Suryana, Direktur Utama PT Pos Indonesia mengatakan pihaknya telah bersepakat untuk menindaklanjuti kerjasama di bidang-bidang kerja teknis kantor pos, sebagai upaya optimalisasi aset dan sumber daya Posindo yang sangat besar dan tersebar di pelosok nusantara. selain tentunya kemungkinan untuk menyertakan asuransi bagi para pegawai pos ke Takaful.
Sedangkan Arya Damar, Direktur Utama PT Artajasa menyambut positif program ini. ”Sudah saatnya perusahaan jasa keuangan, semisal Takaful untuk memanfaatkan layanan teknologi berbasis Teknologi Informasi. Disamping itu pula, Takaful dapat meningkatkan efisiensi operasional penagihan serta memperluas cakupan layanan dengan penambahan akses kemudahan bagi nasabahnya.
Sementara M. Aminuddin Ismail, Direktur Utama PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) mengatakan bahwa saat ini transaksi aktif Takaful Keluarga (life insurance) yang jatuh tempo setiap bulannya mencapai 27.000 transaksi. Sekitar 16.200 transaksi dilakukan melalui bank, sedangkan sisanya sekitar 10.800 transaksi inilah yang diharapkan dapat dilakukan melalui Pos Indonesia.
Takaful Indonesia merupakan salah satu perusahaan asuransi syariah yang menguasai hampir 75% pangsa pasar asuransi syariah di Indonesia. Perusahaan yang telah menggunakan dukungan full reasuransi syariah ini kini memiliki 38 cabang serta diperkuat dengan keberadaan TAA (Takaful Authorize Agency) dalam pemasaran produknya. Dan ke depan diharapkan Takaful dapat memperluas layanan pembayaran premi melalui jaringan ATM-Bersama yang dikelola oleh Arthajasa.
Sedangkan, Pos Indonesia sendiri adalah satu-satunya BUMN dengan jaringan terluas hingga berbagai pelosok daerah. Kelebihan jaringan Pos Indonesia inilah yang menjadi nilai tambah bagi Takaful untuk memperluas jaringan pasar dan meningkatkan pelayanan kepada nasabahnya.
Sebenarnya, kerjasama dengan Posindo sendiri telah dirintis sebelumnya untuk Kantor Wilayah (Kanwil) Pos IX Kalimantan dan Kanwil Pos X Sulawesi, dengan lingkup kerjasama yang memanfaatkan potensi usaha kedua belah pihak.
Sumber: Takaful (18 April 2007)

Read more...

Hermawan Kartajaya : Ekonomi Islam itu Adil dan Indah

Guru marketing Hermawan Kartajaya sudah beberapa lama bergaul dengan praktisi keuangan syariah. Ia mulai fasih mengatakan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin. Beragama Katolik, Hermawan malah berniat ikut dalam mengembangkan nilai marketing Islami. Berikut petikan wawancara sesaat setelah peluncuran buku Sharia Marketing di Jakarta pekan lalu.
Sebetulnya apa beda marketing syariah dan konvensional ?
Dalam dunia marketing itu ada istilah kelirumologi. Itu lho sembilan prinsip yang disalah artikan. Misalnya marketing diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya. Atau marketing yang yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus. Atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Itu salah satu kelirumologi ( merujuk istilah yang dipopulerkan Jaya Suprana). Marketing syariah itu mengajarkan orang untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai syariah mencegah orang (marketer) terperosok pada kelirumologi itu tadi. Ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar. Apalagi jika ia Muslim.
Apakah nilai marketing syariah bisa diterapkan umat lain?
Lha ya nilai Islam itu universal. Rahmatan lil alamin. Begitu kan istilahnya. Nabi Muhammad itu menyebarkan ajaran Islam pasti bukan hanya untuk umat Islam saja. Jadi tidak apa-apa jika nilai marketing syariah ini inisiatif orang Islam supaya bisa menginspirasikan orang lain. Makin banyak non-Muslim yang ikut menerapkan nilai ini, makin bagus. Saya ikut mengendorse marketing syariah. Soal jujur itu kan universal. Jadi marketing syariah harus diketahui orang lain dalam rangka rahmatan lil alamin itu.
Apa nilai inti marketing syariah ?
Integrity atau tak boleh bohong. Transparansi. Orang kan tak boleh bohong. Jadi orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya. Itu jika konsep marketing dijalankan secara benar.
Bagaimana muasal perkembangan nilai spiritual dalam marketing ?
Sejalan dengan perkembangan dunia. Setelah September attack, orang melihat IQ dan EQ saja tidak cukup. Harus ada SQ, spiritual quotient.
Orang melihat apakah nilai marketing syariah ini akan bertahan?
Ya pasti sustain. Karena prinsip dasarnya kejujuran. Ini yang dibutuhkan semua orang. Apalagi setelah kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya. Orang melihat bisnis itu harus jujur.
Lalu di mana peran ilmu marketing dalam konsep syariah ?
Syariah meng-endorse marketing dan marketing mengendorse syariah. Ilmu marketing menyumbangkan profesionalitas dalam syariah. Karena jika orang marketing tidak profesional, orang tetap tidak percaya. Lihat saja bagaimana investor Timur Tengah belum mau investasi di Indonesia, meski negara ini populasinya mayoritas Muslim. Karena mereka tidak yakin dengan profesionalitas kita. Jadi, jujur saja tidak cukup.Bukankah nilai kejujuran dan transparansi itu diajarkan semua agama ?
Ya. Memang semua agama mengajarkan nilai itu. Tapi jangan lupa bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Jadi, ada titik singgung. Bukankah lebih baik mencari yang serupa dari pada memperkarakan yang berbeda. Jika begitu hidup kita damai. Menurut saya, tak mengapa kita sebut marketing syariah. Karena mayoritas populasi di Indonesia itu Muslim. Jadi nilai syariah yang kita kedepankan. Kita mulai di sini, di Indonesia. Ada bagusnya jika yang mengendorse itu orang Islam, bukan yang lain.
Setelah nilai spiritual konsep apa lagi yang akan mengemuka dalam dunia bisnis ?Millenium. Orang mencari keseimbangan. Maksudnya orang berbisnis itu harus menjaga kelangsungan alam, tidak merusak lingkungan. Berbisnis juga ditujukan untuk menolong manusia yang miskin dan bukan menghasilkan keuntungan untuk segelintir orang saja. Nilai-nilai ini ke depan akan mengemuka. Sekarang pertemuan para praktisi marketing mulai mengarah ke sana.
Setelah mengenal Islam, apa pendapat Anda tentang nilai yang diajarkan ?
Islam agama yang universal dan komprehensif. Guidance-nya lengkap. Ada petunjuk untuk seorang pedagang, kepala negara, seorang anak, panglima perang dan semuanya. Ada diatur secara lengkap. Di atas semua itu saya melihat Islam itu ajaran yang damai dan indah. Ajaran Islam bisa dipakai semua orang. Itu kesan saya dan mengapa saya mau mempelajari nilai Islam untuk dikembangkan dalam konsep marketing. Saya sekarang menjadi aktivis lingkungan dan nilai-nilai.(Sumber: Harian Republika)

Read more...

Premi 2008 Takaful Umum Lebihi Target

Perolehan premi Asuransi Takaful Umum (ATU) di 2008 melebihi target yang ditetapkan. Hingga akhir tahun lalu ATU menghimpun premi sebesar Rp 173 miliar. Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dari target sebesar Rp 160 miliar.Direktur Umum ATU, Dadang Sukresna mengatakan, perolehan premi di tahun lalu meningkat sekitar 60 persen dibanding 2007 yang sebesar Rp 101 miliar. ''Kenaikan premi tersebut sebagian besar berasal dari kontribusi agen sekitar 50 persen,'' kata Dadang.Saat ini ATU memiliki sekitar 250 agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara, sisanya berasal dari kerja sama dengan bank maupun perusahaan.Sementara, dilihat dari sisi kontribusi produk, dari premi yang dihimpun di 2008 mayoritas berasal dari asuransi kebakaran sebesar Rp 72 miliar dan kendaraan bermotor (Rp 50 miliar).Sisanya di antaranya berasal dari takaful aneka (kecelakaan diri, all risk, alat berat) sebesar Rp 14 miliar, takaful rekayasa (mesin, peralatan elektronik dan konstruksi) senilai Rp 7 miliar, kapal (Rp 2,7 miliar), dan kargo (Rp 8 miliar).Sedangkan untuk pembayaran klaim di 2008 meningkat dibanding 2007. Klaim di 2008 tercatat Rp 44 miliar, sementara di 2007 sebesar Rp 39 miliar. Walau pembayaran klaim meningkat, lanjut Dadang, namun dengan meningkatnya perolehan premi membuat rasio tahun lalu terlihat bagus. ''Tahun lalu secara rasio klaim lebih bagus karena kurang dari 40 persen,'' kata Dadang. Sementara itu, surplus underwriting ATU tercatat meningkat sekitar 30 persen. Di 2007 surplus underwriting tercatat Rp 31 miliar, sementara di 2008 menjadi Rp 41,8 miliar. Hasil surplus underwriting tahun lalu melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 40 miliar.Hingga saat ini ATU memiliki modal disetor sebesar Rp 50 miliar, namun belum ada rencana untuk menambah modal. ''Untuk asuransi syariah sampai saat ini belum ada keharusan untuk menambah modal. Sementara, jika ada bisnis besar dan perkembangan premi memang signifikan kita akan lihat lagi,'' kata Dadang. Namun, di tengah krisis ekonomi saat ini, ia menyatakan semua pihak tampaknya masih menahan diri menambah modal. Di akhir 2008 ATU memiliki aset Rp 119 miliar.Selasa, Republika, 17 Maret 2009 pukul 21:26:00

Read more...
Tag :

Group


subsidi income270
bannertakaful270

musik


Kamus

Visitor

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP